Jumat, 09 November 2018

PEMIJAHAN IKAN GURAMI DI KOLAM TERPAL


1.       PENDAHULUAN

Pemijahan gurami biasanya dilakukan di kolam tanah dengan ketinggian air minimum 80 cm, luas kolam mencapai 20 m2 untuk satu pasang induk.  Biasanya kolam pemijahan gurami berada di tanah sawah yang luas dan air yang selalu tersedia sepanjang tahun.
Kini, pemijahan gurami ternyata bisa dilakukan dikolam terpal yang sempit, air yang dangkal, dan tanpa aliran air.  Penambahan air hanya dilakukan jika terjadi penggurangan air karena penguapan atau penyiponan.  Para pelaku usaha perikanan yang ingin mengeluti usaha budidaya gurami pada segmen pemijahan dan pembenihan bisa memulai usahanya di pekarangan rumah atau lahan tidur yang kurang produktif.
Pemijahan gurami di kolam terpal tidak mengenal musim.  Ketika pembenih konvesional kesulitan memperoleh telur karena cuaca yang ekstrem membuat induk gurami tidak bisa memijah dan bertelur, tetapi pemijahan gurami di kolam terpal tetap menghasilkan telur dan tetap produktif.
2.       Keunggulan Pemijahan Ikan Gurami Di Kolam Terpal
Berikut beberapa keunggulan yang dimiliki  oleh kolam terpal dibandingkan dengan kolam konvensional.
·         Pembuatan kolam terpal bisa dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 2 – 3 hari dengan biaya yang cukup terjangkau.  Jika peralatan dan bahan-bahan telah siap, 1 unit kolam terpal ukuran 2 x 4 m bisa dibuat dalam waktu 1 hari.
·         Pemijahan ikan gurami di kolam terpal tidak memerlukan air yang banyak, tinggi air hanya 40 – 45 cm.
·         Biaya investasi yang dikeluarkan untuk pembuatan satu paket kolam pemijahan dan pembenihan ikan gurami jauh lebih murah.
·         Biaya operasional pemijahan ikan gurami di kolam terpal tergolong sangat murah.  Biaya rutin yang dikeluarkan berupa biaya listrik untuk menghidupkan pompa saat mengisi kolam terpal.  Itu pun, hanya dibutuhkan pada saat pengisian awal kolam.  Setelah itu, digunakan apabila ada penambahan ketika air berkurang.  Biaya tersebut menjadi lebih irit lagi jika menggunakan air dari saluran irigasi yang mengalir turun dari hulu sumber air menuju kolam di dataran yang lebih rendah.
·         Lahan yang diperlukan untuk pembuatan kolam terpal tidak terlalu luas, bisa dibuat disamping rumah atau pekarangan rumah.
·         Pemijahan gurami di kolam terpal, memudahkan pembudidaya untuk mengantisipasi serangan hama, seperti kodok dan kelalawar yang memakan telur atau benih gurami. 
·         Sifatnya yang semi permanen, membuat kolam terpal ini mudah untuk dibongkar dan dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman, ketika ada serangan wabah penyakit.
3.       Persiapan Pemijahan Ikan Gurami Di Kolam Terpal.
·         Untuk menijahkan ikan gurami sebanyak 6 paket (1 paket terdiri dari 1 ekor jantan dan 3 ekor betina), sediakan kolam terpal ukuran 2 x 4 m sebanyak 6 buah.  Untuk pemeliharaan larva, sediakan kolam terpal sebanyak 6 buah dengan ukuran 2 x 3 m dengan asumsi 1 buah kolam terpal bisa menampung 2.500 benih ikan gurami hingga berukuran biji waluh.
·         Isi kolam terpal dengan air setinggi 40 – 45 cm.
·         Siapkan induk ikan gurami unggul dan sehat sebanyak 6 paket, terdiri dari induk jantan sebanyak 6 ekor, dengan umur minimal 4 tahun dengan bobot 2 kg.  Induk betina 18 ekor, dengan umur minimal 3 tahun dengan bobot 1,5 kg.
·         Sediakan ijuk yang halus dan lembut sebanyak 18 kg, dengan asumsi setiap kolam terpal diisi ijuk seberat 3 kg.  Letakan ijuk yang sudah dibersihkan disudut kolam terpal yang berukuran 2 x 4 m.  Fungsi ijuk ini adalah bahan ikan gurami untuk membuat sarang.
4.       Proses Pemijahan Ikan Gurami

·         Masukan induk gurami ke dalam kolam terpal ukuran 2 x 4 m yang sudah dipersiapkan, sebanyak 1 paket per kolam (1 paket terdiri dari 1 ekor jantan dan 3 ekor betina).
·         Proses adaptasi induk gurami pada kolam pemijahan biasanya berlangsung selama 1 minggu.  Dalam kurun waktu tersebut gurami jantan mulai mencari pasangan dan membuat sarang yang disusun rapi pada tempat tertentu disekitar gumpalan ijuk yang telah disiapkan.
·         Sarang yang sudah siap akan terlihat seperti sarang burung dengan lubang pada posisi sebelah samping yang masih terbuka.
·         Pemijahan berlangsung biasanya pada pukul 15.00 – 19.00, waktu tersebut suasana mulai tenang.  Saat proses pemijahan tersebut, induk betina akan menyemprotkan telur ke dalam sarang dan pada saat yang bersamaan induk jantan juga mengeluarkan sperma.
·         Proses pembuahan akan terjadi dan telur masuk ke dalam  
sarang.  Telur yang dikeluarkan oleh induk betina tidak semuanya masuk ke dalam sarang. Sehingga pada saat pembuahan, induk jantan biasanya akan dengan cepat mengambil telur yang jatuh dan memasukannya ke dalam sarang.
·         Setelah telur induk betina habis, induk jantan menghentikan proses pembuahan.  Selanjutnya, induk jantan segera menutup pintu sarang dan pergi.
·         Induk betina menjaga dan mengerami telur yang berada di dalam sarang.  Induk betina akan selalu mengerak-gerakan siripnya di sekitar sarang untuk menimbulkan aliran air, sehingga menambah asupan oksigen untuk telur.
·         Proses pemijahan telah berhasil, ditandai dengan permukaan air kolam akan  muncul minyak yang disertai bau amis.
·         Setelah proses pemijahan selesai segara ambil telur pada pagi harinya secara hati-hati.
5.       Cara Pengambilan Telur Ikan Gurami
·         Siapkan wadah/baskom dan isi dengan air setinggi 10 – 15 cm.  Siapkan juga cangkir kecil plastik yang transparan untuk mengambil telur.
·         Sarang yang telah tertutup dan berisi telur diambil secara perlahan dari tempatnya dan angkat hingga sarang terendam ¾ bagian di permukaan air.  Balik sarang, sehingga posisi pintu sarang menghadap ke atas.  Pertahankan posisi sarang tetap di permukaan air.
·         Buka pintu sarang, sehingga telur gurami akan menyembul keluar.  Biarkan selama beberapa saat agar minyak yang berada di dalam sarang menyebar dan keluar dari dalam sarang.
·         Setelah minyak habis, ambil telur menggunakan cangkir transparan dan masukan ke dalam wadah/baskom yang telah disiapkan.  Semua proses tersebut dilakukan di dalam kolam disekitar sarang yang akan di panen telurnya.
·         Proses penetasan telur gurami hingga menjadi larva yang siap tebar dilakukan di dalam wadah/baskom.  Letakkan wadah/baskom yang telah berisi telur gurami ditempat tertutup.  Lakukan pemantauan setiap hari untuk melihat perkembangan telur dan kualitas air.  Jika ada telur yang mati dan memutih, pisahkan dengan menggunakan pinset lalu buang.
·         Setelah 24 jam telur gurami biasanya sudah menetas dan bergerak.  Selanjutnya dalam kurun waktu 48 – 72  jam larva sudah mulai bergerak berputar.
·         Pada hari ke 7 dari pemanenan telur, larva sudah mulai berbentuk ikan kecil yang masih menyisakan kuning telur sebagai cadangan makanan.  Ketika cadangan makanan pada perut ikan mulai menipis, yaitu pada umur 8 – 10 hari, larva sudah bisa dipindahkan ke kolam pendederan.
·         Untuk mehindari terjadinya kematian pada larva gurami, sebaiknya makanan tambahan berupa cacing sutra (tubifex) telah disiapkan dalam kolam pendederan sehari sebelum larva gurami dipindahkan.  Hal ini bertujuan agar benih yang dipindahkan bisa langsung menyesuaikan diri dengan makanan tambahan berupa cacing sutra yang telah disiapkan sebelum makanan cadangan di tubuhnya habis.


Sumber:
Leksono, Marbowo dan Efendi, Mahmud, 2017. Pembenihan Gurami Metode Terpal Air Dangkal Tanpa Anjang-Anjang dan Sosok. PT. Agro Media Pustaka.  Jakarta Selatan.


Jumat, 26 Oktober 2018

PEMBUATAN PAKAN LELE ORGANIK


1.    PENDAHULUAN


Lele organik merupakan ikan lele yang dibudidayakan dengan menggunakan teknik budidaya lele yang ramah lingkungan, yaitu memanfaatkan setting mikroorganisme positif pada kolam dan siklus yang sama dengan habitat hidup ikan lele yang asli.  Cara ini dikembangkan untuk meringankan beban para pembudidaya ikan lele yang merasa keberatan dengan mahalnya harga pakan untuk pembesaran ikan.
Banyak keuntungan yang diperoleh jika budidaya lele dilakukan menggunakan cara organik dibandingkan dengan budidaya lele dengan cara konvensional yang membutuhkan banyak sekali penanganan.  Ada manfaat utama yang kira dapat jika menggunakan metode lele organik, yaitu simple dan hemat biaya.  Adapun beberapa manfaat lainnya dengan metode budidaya lele organik sebagai berikut :
·     Hemat pakan
·     Hemat biaya pemeliharaan
·     Menekan persentase kematian
·     Tidak banyak memerlukan pergantian air
·     Bebas bahan kimia
·     Bebas bau
·     Mudah di praktekan
·     Limbahnya dapat dimanfaatkan
·     Membantu pembudidaya mendapat penghasilan tambahan
·     Rasa daging lele lebih gurih
Dalam melakukan budidaya lele dengan metode organik, salah satunya dengan memberikan ikan lele dengan pakan organik dari kotoran ternak.  Kotoran ternak sebagai pakan organik dalam metode ini bukan berarti langsung diberikan pada ikan lele.  Kotoran tersebut akan diproses menjadi semacam pupuk organik yang akan merangsang tumbuhnya pakan alami yang berguna sebagai pakan sekaligus media berkembangnya mikroorganisme kompleks pada kolam.
Beberapa hal yang harus diketahui dan diperhatikan dalam memanfaatkan kototan ternak sebagai pakan organik sebagai berikut :
·         Kotoran ternak yang digunakan itu tidak sembarangan, artinya tidak asal-asalan.  Usahakan kotoran ternak tersebut padat dan tidak berbau.
·         Usahakan kotoran ternak yang digunakan berasal dari ternak yang diberi pakan dengan jenis makanan hasil fermentasi.  Kotoran ternak ini bisa didapatkan dari ternak yang makanannya sudah difermentasi terlebih dahulu.
2.       Bahan-Bahan Pakan Lele Organik


Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pakan lele organik, adalah kotoran yang berasal dari ternak seperti : sapi, kambing, kerbau, kelinci.  Tidak ada bukti yang signifikan mengenai keunggulan masing-masing jenis kotoran ternak, tetapi secara umum kotoran sapi lebih banyak digunakan sebagai bahan pakan organik lele, dikarenakan ketersediaannya lebih banyak dibandingkan dengan kotoran hewan ternak lainnya.
Kotoran ternak lain yang bisa dipakai untuk bahan pakan organik ikan lele adalah kototan ayam yang berasal dari peternakan ayam pedaging.  Menurut hasil penelitian kotoran ayam mengandung 18,97 % protein abu, 18,41 % protein kasar, 1,19 % lemak kasar 12,52 % serat kasar, 32,91 % energi total nutrient (ETN), 8,02 % kalsium, dan 2,63 % fosfor (Solopos.com, 14 Juli 2012).  Melihat kandungan yang terdapat pada kotoran ayam, maka kotoran ayam ini sangat bagus untuk bahan pakan organik pakan lele.
Kotoran ayam kandungan nitrogen sangat tinggi, semakin tinggi kandungan unsur hara nitrogen, bahan baku semakin cepat terurai. Hal ini disebabkan karena jasad renik pengurai memerlukan unsur hara nitrogen untuk perkembangannya.  Unsur hara nitrogen digunakan oleh mikroorganisme untuk sintesis protein dan pembentukan protoplasma.  Sebanyak 40 – 50 % protoplasma tersusun dari senyawa yang mengandung unsur hara nitrogen.
3.       Cara Membuat Pakan Organik Ikan Lele
Dalam membuat pakan organik ikan lele, hal pertama yang perlu disiapkan adalah media berupa kolam lele.  Kita tidak perlu membuat kolam ikan lele dari tanah, karena nantinya kita menggunakan kompos yang berfungsi sebagai tempat berkembang biak mikroorganisme.  Pembudidaya bisa menggunakan kolam semen atau kolam terpal.
Bahan yang diperlukan :
·         Kotoran ternak yang telah diangin-anginkan selama sekitar seminggu sebanyak 100 – 150 kg dalam keadaan kering.
·         Probiotik EM 4 Perikanan 1 liter.
·         Air matang sekitar 10 – 20 liter.
·         Tetes tebu (molase) sebanyak 2 liter
·         Karaung dan paranet sesuai ukuran kolam sekitar 1 x 2 m, sebagai tempat untuk pemberian pakan organik ke kolam.
·         Jeriken atau Kaleng bekas cat dari plastik kapasitas 30 liter.
Proses pembuatan pakan organik
·         Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengaktifkan probiotiknya dulu, jadi sebelum kita mencampur semua bahan, pertama kita campurkan probiotik, molase, dan air matang, campuran tersebut kita aerasi selama 2 jam dengan cara memasang aerator.
·         Setelah itu kita masukan kotoran ternak yang sudah keringkan ke dalam wadah fermentasi yang sudah kita siapkan sebelumnya.
·         Kita siramkan campuran probiotik yang sudah kita aktifkan tadi ke dalam wadah yang berisi kotoran ternak, terus kita aduk secara merata.
·         Kemudian kita tutup wadahnya, dan kita biarkan saja sampai bahan-bahan itu berfermentasi selama 7 – 14 hari.  Nanti kalau proses fermentasi sudah selesai, pakan yang sudah terfermentasi itu bisa kita masukan ke dalam karung.
Cara Pemberian Pakan Organik

Pakan organik dari kotoran ternak bisa kita berikan pada lele yang berumur di bawah 1 bulan dengan ukuran penebaran awal maksimum 4 – 6 cm.  Cara pemberiannya cukup ambil pakan organik hasil fermentasi, kemudian masukan kedalam wadah (karung) dan masukan ke dalam kolam lele.
Sedangkan cara lainnya, letakkan pakan organik hasil fermentasi ke atas paranet sudah terpasang di atas permukaan air kolam lele.
Apabila menebar benih lele ukuran 2 – 3 cm atau 3 – 4 cm, setelah 3 – 4 hari setelah tebar benih, lakukan penambahan pakan lele organik sebanyak 2 -3 gayung tergantung dari luas kolam dan jumlah tebar benih.
Selanjutnya, lakukan pemupukan ulang   dengan Fermentasi kotoran ternak tadi secara rutin, setiap 2 – 3 hari sekali sampaiukuraan lele 5 – 7 cm dan sudah mau mengkonsumsi pakan lele organik yang sudah dijadikan fellet.

Sumber:
Efendi, Mahmud dan Sitanggang,Maloedin, 2016. Lele Organik Hemat Pakan. PT. Agro Media Pustaka.  Jakarta Selatan.

PEMBESARAN IKAN PATIN




Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk
“membongsorkan“ tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini.
Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti
perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan (catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini. Adapun
PERSYARATAN LOKASI
- Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
- Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
- Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
- Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
- Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.
TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PEMBESARAN PATIN
Persiapkan kolam
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan kolam sebagai tempat memelihara ikan. Hal ini tidak sulit karena ikan patin dapat hidup pada berbagai jenis tempat. Bisa kolam tanah, kolam terpal, kolam tembok, atau keramba. Jika anda menggunakan kolam lama maka bersihkan dahulu kolam tersebut dari kotoran-kotoran sehingga ketika diisi benih ikan sudah dalam kondisi bersih. Jika anda lebih tertarik menggunakan kolam tanah maka pilihlah jenis tanah lempung atau liat sehingga tidak bocor dan dapat menahan massa air. Kolam sebaiknya dibuat di tanah yang miring untuk lebih memudahkan saat melakukan pengairan. Jika anda lebih memilih menggunakan media jala apung untuk beternak patin maka sebaiknya lakukan di sungai yang arusnya lambat.
Pengisian air ke dalam kolam
Untuk mengisi kolam gunakan air yang bersih dan berkualitas, tidak keruh, serta tidak tercemar limbah dan zat-zat kimia berbahaya. Anda dapat menambahkan emolin atau blitzich ke dalam kolam untuk menghambat pertumbuhan jamur. Selain itu perhatikan juga suhu dan pH air. Untuk suhu air disarankan pada kisaran 26-28 derajat celcius. Jika suhu air terlalu rendah sebaiknya gunakan pemanas sehingga air mencapai suhu ideal secara stabil. Sementara pH air yang disarankan untuk memelihara ikan patin adalah 6,5 hingga 7, tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa.
Pengisian air ke dalam kolam
Untuk mengisi kolam gunakan air yang bersih dan berkualitas, tidak keruh, serta tidak tercemar limbah dan zat-zat kimia berbahaya. Anda dapat menambahkan emolin atau blitzich ke dalam kolam untuk menghambat pertumbuhan jamur. Selain itu perhatikan juga suhu dan pH air. Untuk suhu air disarankan pada kisaran 26-28 derajat celcius. Jika suhu air terlalu rendah sebaiknya gunakan pemanas sehingga air mencapai suhu ideal secara stabil. Sementara pH air yang disarankan untuk memelihara ikan patin adalah 6,5 hingga 7, tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa.
Berikan pemupukan sebelum benih ikan patin ditebarkan
Jika anda menggunakan kolam lumpur untuk memelihara ikan patin maka sebelum benihnya ditebarkan sebaiknya kolam diberi pemupukan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk merangsang pertumbuhan makanan alami bagi ikan patin sehingga dapat meningkatkan produktivitas kolam. Anda dapat menggunakan pupuk hijau atau pupuk kandang dengan takaran 50 gram – 700 gram per meter persegi.
Tebar benih ikan patin secara tepat dan seimbang
Sebagai penernak ikan anda tentu mengharapkan untung yang besar setiap kali panen. Namun bukan berarti anda dapat mengisi kolam dengan benih ikan tanpa perhitungan. Jangan terlalu banyak menebar benih melewati kapasitas maksimalnya karena akan menyebabkan ikan terlalu rapat sehingga tidak dapat hidup dan tumbuh dengan baik. Untuk 1 m3 air cukup ditebar 20-30 ekor ikan.
Berikan pakan yang berkualitas
Pemberian pakan berkualitas sangat menentukan pertumbuhan ikan sehinga ia dapat tumbuh besar secara maksimal. Jenis pakan yang umum diberikan pada ikan patin adalah pelet yang dapat dengan mudah ditemukan di pasaran. Anda juga dapat memberinya makanan alami agar ia tidak merasa bosan serta untuk menghemat biaya pemeliharaan. Selain itu makanan-makanan alami ini biasanya memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga baik untuk pertumbuhan ikan. Contoh makanan alami yang dapat diberikan kepada ikan patin yaitu ikan sisa, keong emas, kerang, bekicot, dan lain sebagainya.
Berikan pakan secara tepat dan seimbang
Pakan ikan juga harus diberikan secara tepat dan seimbang sesuai dengan kebutuhan ikan. Jangan mentang-mentang ingin ikan cepat besar sehingga anda memberinya makan secara berlebihan. Bagaimana mengetahui berapa banyak kebutuhan seekor ikan? Kita dapat menentukannya dari bobot ikan. Idealnya jumlah pakan untuk ikan patin yang berbobot di bawah 200 gram per ekor adalah 3% – 5% dari keseluruhan bobot ikan pada kolam tersebut dan diberikan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Sementara untuk ikan patin yang berbobot di atas 200 gram per ekor dapat diberikan pakan dengan persentase 1,5% – 2% dari total bobot ikan di kolam tersebut dan diberikan satu kali sehari saat sore hari.
Berikan pakan secara rutin dan tepat waktu
Pemberian pakan secara rutin dan tepat waktu perlu dilakukan agar ikan dapat tumbuh besar dan sehat secara makasimal. Apabila pemberian pakan selalu dilakukan dengan waktu yang tidak pernah berganti, memungkinkan ikan mapu beradaptasi dengan jadwal makan yang majikannya berikan.
Bersihkan kolam secara rutin
Layaknya kandang bagi hewan lain, kolam sebagai tempat hidup ikan juga harus dibersihkan secara rutin dengan cara mengganti airnya. Dengan kolam dan air yang bersih ikan akan tumbuh sehat dan terhindar dari berbagai penyakit. Pembersihan kolam yang baik dan benar harus dilakukan minimal seminggu sekali agar ikan tetap merasa segar berada di habitatnya.
Pasang penerangan di sekitar kolam
Tujuan diberikan penerangan ini agar berbagai hama seperti kura-kura, ular air, lingsang, biawak, dan burung enggan masuk ke kolam dan menyerang ikan patin. Adanya penerangan di sekitar kolam memudahpkan ikan patin untuk waspada tehadap hama yang ada di sekelilingnya.
Kondisikan kolam agar tenang dan terhindar dari kebisingan
Ikan patin merupakan jenis ikan yang mudah panik. Terkejut atau bising sedikit saja dapat membuat ikan ini langsung panik sehingga tidak baik bagi perkembangannya. Untuk itu hindarkan ia dari kejutan serta sebaiknya cari lokasi kolam di tempat yang tenang dan jauh dari kebisingan.
Kenali hama dan penyakit yang dapat menyerang ikan dan cara penanganannya
Hal ini penting dilakukan sehingga anda dapat melakukan pencegahan agar ikan dapat tumbuh sehat dan terhindar dari berbagai penyakit. Kalaupun sudah terlanjur terinfeksi penyakit dapat dilakukan penanganan yang tepat sehingga ikan dapat sehat kembali.
Panen dengan cara yang benar
Masa panen merupakan masa yang ditunggu semua peternak. Dalam memanen ikan patin perlu diperhatikan apakah seluruh ikan sudah pantas dipanen atau belum. Jika bobot ikan dalam satu kolam beragam maka anda harus melakukan panen secara seleksi yaitu dengan menjaring ikan yang sudah layak panen saja. Sementara jika seluruh ikan dalam kolam tersebut sudah layak panen maka anda tinggal memanennya sekaligus tanpa perlu melakukan seleksi. Anda juga harus memanen secara hati-hati agar ikan yang sudah dipelihara sekian lama tidak mengalami cacat, kerusakan, bahkan mati karena cara panen yang keliru. Ikan patin yang masih hidup lebih disukai oleh konsumen sehingga meningkatkan nilai jualnya.
Hati-hati saat menangkap atau memegangnya
Berhati-hatilah saat menimbang atau memanen ikan yang membuat anda harus memegangnya secara langsung karena patil ikan ini cukup tajam sehingga dapat membuat tangan terluka. Bahkan kolam terpal bisa bocor karena terkena patilnya.
SUMBER :
Djarijah, A. S. 2001. Budidaya Ikan Patin. Kanisius.
         Yogyakarta.
Khairuman, dan D. Sudenda. 2002. Budidaya Patin Secara
          Intensif. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Kordi K, M. G. H. 2005. Budidaya Ikan Patin. Yayasan
          Pustaka Nusatama. Yogyakarta.